Tuturku Padamu, Bidadariku

Standar

bd7fb62620d22cda83c9ef15ce14aa74Teruntuk bidadariku, yang telah Allah takdirkan menjadi pendampingku. Rangkaian kata ini kutulis untuk mengingatkan diriku. Betapa besar tanggungjawabku atas dirimu dihadapanNya kelak. Selain bentuk rasa syukurku kepadaNya dan rasa cintaku padamu. Maafkan jika nanti ada penuturan kata yang kurang berkenan. Anggap saja itu kekuranganku menemukan untaian kata yang tepat nan indah.

Aku ingin engkau membaca setiap kata dalam tulisan dengan penuh senyum. Senyum yang senantiasa memancarkan energi kebaikan untuk sekitar. Biarkan orang disekitar saat membaca bertanya-tanya atas senyummu. Sehingga engkau menjawab,”lagi mendapat hadiah spesial dari orang tercinta”

Hal pertama yang aku tulis diatas tentang tanggungjawab. Sekali lagi, maafkan jika ada kata kurang berkenan yang meluncur dari lesanku dalam menasehatimu ditiap waktu. Tidak ada maksud berkata kasar atau marah. Semata-mata karena aku ingin engkau menjadi yang terbaik. Perjalananmu untuk menjadi lebih baik dihadapanNya saat ini telah menjadi tanggungjawabku. Kesalahanmu menjadi tanggungjawabku juga dihadapanNya kelak. Tentu engkau paham akan Firman Allah dalam surat An-Nisa :34

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki atas sebahagian yang lain (wanita)..”

Aku tidak terlalu memahami hukum-hukum syariat Agama Islam. Tapi aku punya sedikit pemahaman. Aku akan terus belajar dengan semangat karena tanggungjawabku. Maka, jangan bosan jika aku terus menuturkan nasihat kepadamu. Berbagi dalil-dalil denganmu. Karena aku ingin kita bisa bersikap dengan islami. Tidak terjerumus dalam jurang kesyirikan dan kemungkaran. Tentu kita juga tidak ingin menjadi insan-insan yang merugi di Dunia dan Akhirat.

Oleh sebab itu jangan marah jika aku tidak bertanya tentang apa menu masakan. Tapi aku lebih sering bertanya tentang agama dan ibadah kepadamu. Maafkan jika nanti aku lebih memilih menghadiahkanmu buku-buku tentang islam, ketimbang pakaian mewah atau barang kesukaanmu. Semata-mata itu karena aku takut jika nanti Allah meminta pertanggungjawaban kepadaku sebagaimana FirmanNya dalam surat At Tahrim :6

“Hai orang–orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu, penjaganya malaikat – malaikat yang kasar, keras & tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg di perintahkan-Nya kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintakan”

Sekali lagi, masih tentang caraku bersikap kepadamu. Aku memiliki kecemburuan. Sehingga tidak akan membiarkanmu keluar dengan menampakkan aurat sedikitpun. Karena dimata agama kita, wanita adalah makluk yang sangat mulia. Keindahan dan keelokannya hanya diperuntukan atau dikhususkan buat suaminya saja dan tidak sekali-kali di”jaja” sebebas-bebasnya. Kecemburuanku bukan tanpa alas an. Ini karena aku mencoba memperhatikan nasihat teladhan kita Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh An-Nasai :

“Tiga golongan yang Allah s.w.t tidak akan melihat mereka pada hari kiamat iaitu seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai lelaki dan ad-Dayyuts”

Ya, aku tidak ingin menjadi Ad Dayyuts atau lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya.

Namun, jika diantara caraku bersikap kepadamu ada yang keras, kasar dan tidak lembut engkau berhak untuk menginggatkanku. Justru itu akan aku anggap sebagai hadiah dari kesholihan seorang istri. Aku tentu akan bersyukur karena engkau secara tidak langsung mengingatkan akan cintaku kepada Nabiku. Bukankah beliau juga pernah bersabda yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi:

Rasulullah s.a.w bersabda: “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik–baik kalian adalah yang paling baik tehadap isteri-isterinya.”

Dan, disuatu saat jika aku terlalu sombong dalam membantumu urusan rumah tangga, silahkan engkau bertutur tentang kehidupan Rasulullah SAW yang tidak segan untuk membantu pekerjaan isterinya. Karena ketika Aisyah ra ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullaan SAW di rumah, beliau menjawab:

“Beliau membantu pekerjaan isterinya & jika datang waktu solat, maka beliau pun keluar untuk solat.” {H.R. Bukhari}

Semoga cukup menginspirasimu.

Pondok Cabe, 24 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s