Tuturku Padamu, Bidadariku

Standar

bd7fb62620d22cda83c9ef15ce14aa74Teruntuk bidadariku, yang telah Allah takdirkan menjadi pendampingku. Rangkaian kata ini kutulis untuk mengingatkan diriku. Betapa besar tanggungjawabku atas dirimu dihadapanNya kelak. Selain bentuk rasa syukurku kepadaNya dan rasa cintaku padamu. Maafkan jika nanti ada penuturan kata yang kurang berkenan. Anggap saja itu kekuranganku menemukan untaian kata yang tepat nan indah.

Aku ingin engkau membaca setiap kata dalam tulisan dengan penuh senyum. Senyum yang senantiasa memancarkan energi kebaikan untuk sekitar. Biarkan orang disekitar saat membaca bertanya-tanya atas senyummu. Sehingga engkau menjawab,”lagi mendapat hadiah spesial dari orang tercinta”

Hal pertama yang aku tulis diatas tentang tanggungjawab. Sekali lagi, maafkan jika ada kata kurang berkenan yang meluncur dari lesanku dalam menasehatimu ditiap waktu. Tidak ada maksud berkata kasar atau marah. Semata-mata karena aku ingin engkau menjadi yang terbaik. Perjalananmu untuk menjadi lebih baik dihadapanNya saat ini telah menjadi tanggungjawabku. Kesalahanmu menjadi tanggungjawabku juga dihadapanNya kelak. Tentu engkau paham akan Firman Allah dalam surat An-Nisa :34

“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki atas sebahagian yang lain (wanita)..”

Read the rest of this entry

“Melati” Itu telah Kutemukan

Standar

Beberapa saat setelah pernikakan, saya bertanya kepada istriku.”Sejak kapan engkau mencintaiku?” Dengan tersipu malu dia menjawab,”saya baru mencintai Mas (panggilan ke saya) sesaat setelah akad nikah”. Hadeh, ternyata proposal nikah yang kutulis tidak mampu meyakinkan dan membuat dia jatuh cinta. Padahal sudah kutampilkan foto paling keren dan paling ganteng yang kupunya. Malah katanya sempat membuat ragu. 90% pilih menolak karena terlihat senior banget. Histori aktivitas pun sudah detail saya tuliskan. Mulai ketua geng a, komplotan b, ternyata tetap sia-sia. Namanya cinta memang tak bisa dipaksakan. Apalagi kami kenal saja tidak. Saya dari belahan dunia bagian timur,sedang dia dari belahan dunia bagian barat bahkan dipeta saja tak akan ketemu mungkin.

“Sejak kapan Mas mencintai saya?. Sejak ta’aruf?”, gantian dia bertanya kepadaku. “Sesungguhnya saya mulai cinta dan suka sekitar 3 menit setelah akad nikah. Tepatnya pada saat saya dihalalkan memegang jemari lembut bidadari disebelahku”. Jawabku. Benar kata senior-senior, menjelang pernikahan biasanya banyak godaan. Paling menggnggu, yang kami rasakan adalah ragu-ragu yang terus membisiki. Bagi kami, menjaga proses sampai akad nikah lebih paling penting. Saya yakin dan pasrah, pilihan Allah yang terbaik. (Berbagi pengalaman tentang mencari jodoh, ta’aruf, khitbah, memang menarik. Tapi episode berikutnya). Saat ini “melati” yang kuinginkan sudah kutemukan. Maka akupun menuturkan kembali ke istriku tentang “Putihnya Bunga Melati”

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

Syukur kepada Allah yang telah menemukanmu untukku, Tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan berusaha menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta. berusaha takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja. Inovasi-inovasi akan selalu tercipta untuk menjaga komitmen dalam berumah tangga. SurgaNya impian kita.

Bogor, 21 September 2015

Mengapa Susah Sholat Malam?

Standar

Ibrahim bin Adam pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam (tahajud).
Beliau kemudian berkata kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza Wajala di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat di hadapan-Nya malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan
kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.”

Sementara Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika engkau tidak mampu menunaikan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya sedang dalam keadaan terhalang, karena dosa-dosamu begitu banyak.”

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada Beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Al-Hasan berkata, “Tidaklah seseorang meninggalkan shalat malam kecuali karena dosa yang dilakukannya. Oleh karena itu, periksalah diri kalian setiap malam ketika matahari terbenam, kemudian bertaubatlah kepada Robb kalian, agar kalian bisa mengerjakan shalat malam.”
Dalam kesempatan lain, beliau menjelaskan, “Di antara pertanda
seseorang itu tenggelam dalam dosa adalah bahwa dadanya tidak
pernah lapang untuk bisa mengerjakan puasa di siang hari dan mengerjakan shalat sunnah di malam hari.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku pernah terhalang (tidak bisa
bangun) untuk mengerjakan shalat malam selama lima bulan
disebabkan satu dosa yang telah aku lakukan.”
Ditanyakanlah kepada beliau, “Dosa apakah itu? “Beliau menjawab,
“Aku melihat seorang laki-laki yang menangis, lalu aku katakan di dalam hatiku bahwa itu dilakukannya sebagai bentuk kepura-puraan saja.”

Abdullah bin Mas’ud pernah ditanya oleh seseorang, “Kami tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat”. Ia pun menjawab,
“Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Demikian juga memakan barang yang haram akan menghalangi
pelaksanaan shalat malam.
Salah seorang dari kalangan Ulama mengatakan, “Betapa sering sesuap makanan itu menghalangi pelaksanaan shalat malam.
Betapa sering pandangan itu menghalangi seseorang dari membaca satu surat dari Al-Qur’an.”

Sungguh seorang hamba itu akan menyantap satu makanan atau
melakukan sesuatu perbuatan yang menyebabkannya tidak bisa
mengerjakan shalat malam selama satu tahun.

Demikian juga, kecintaan kepada dunia (hubbud dunya) bisa
menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat malam.

Abu Thalib Al-Makki berkata, “Yang bisa menghalangi seorang
hamba dari melakukan shalat malam, atau yang menjadikannya lalai dalam waktu sekian lama, ada tiga hal. Yaitu, menyantap makanan yang syubhat, terus-menerus melakukan perbuatan dosa dan dominasi pikiran keduniaan di hati.”

Bertolak dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa yang bisa
membantu seseorang agar bisa mengerjakan shalat malam itu
adalah;
1. memakan makanan yang halal,
2. istiqomah di dalam bertaubat,
3.  menjauhi makanan yang haram dan syubhat,
4. menjauhi dosa dan maksiat,
5. menolak dominasi pikiran keduniaan dan kecintaan kepada dunia dari dalam hati dengan cara selalu ingat mati dan memikirkan akhirat atau apa saja yang akan ditemui sesudah mati.
*****

Sungguh, di antara shalat sunnah yang paling utama adalah shalat
malam (tahajud).
Allah SWT berfirman (yang artinya): Pada sebagian malam itu, bertahajudlah kalian sebagai ibadah tambahan bagi kalian. (Dengan shalat malam itu) Allah pasti mengangkat kalian ke derajat yang terpuji (TQS al-Isra’: 79).

Begitu pentingnya shalat tahajud ini, Rasulullah SAW sampai
menyuruh kita untuk “mengqadhanya” saat tertinggal.
Beliau bersabda, “Jika kalian tertinggal dari menunaikan shalat
malam karena sakit atau hal lain, hendaklah kalian menunaikan
shalat dua belas rakaat (rawatib) di siang hari.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Siapa saja yang ketiduran hingga tidak menunaikan shalat witir atau sunnah-sunnahnya, Hendaklah ia menunaikannya saat terjaga.” (HR Muslim).

Sebaliknya, Rasulullah SAW “mencela” orang yang tidak melakukan shalat malam, padahal ia sering bangun tengah malam.

Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-’Ash, “Wahai
Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan; ia bangun malam tetapi tidak menunaikan shalat malam.” (Mutaffaq ‘alaih).

Semoga Allah ringankan hati dan langkah kita untuk tunaikan shalat
malam.
Wallahu a’lam.

Buat Renungan

Standar

Berawal ada seorang pria buta yg membenci dirinya sendiri krn kebutaannya itu.Tdk hanya terhdp dirinya sendiri, ttpi dia jg membenci semua org kecuali kekasihnya seorang.
Kekasihnya itu selalu berada disampingnya utk menemani & menghiburnya,

Dia berjanji akan menikahi kekasihnya bilamana suatu ketika dia sdh bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yg dgn sukarela mendonorkan sepasang mata kepadanya shg akhirnya dia bisa melihat dunia ini lagi n termasuk bs melihat kekasihnya juga.

Kekasihnya bertanya, “Skrg kamu sdh bs melihat dunia. Apakh kamu mau menikah denganku?”
Pria itu terguncang hatinya saat melihat bhw kekasihnya ternyata buta.
Dia menolak utk menikahinya.
kekasihnya sngtlah kecewa n akhirnya pergi meninggalkannya dgn hati yg hancur n berlinang air mata, kemudian dia dgn susah payah menulis secarik kertas yg isinya singkat kpd pria itu,,,, “Sayangku, tolong jaga baik2 kedua bola mataku”.

~Kisah di atas memperlihatkan bgmn pikiran manusia begitu cepat sekali berubah disaat apabila status hidupnya sdh berubah menjadi baik.
Hanya sedikit orang yg ingat bgmn keadaan hidup seblmnya & lebih sedikit lagi yg ingat terhdp siapa dia hrs berterima kasih n balas budinya krn tlh menopang dia pada saat dia dlm kesusahan.

●Hari ini seblm engkau berpikir utk mengucapkan kata2 kasar, Ingatlah akan seseorg yg tdk “bs berbicara”.

●Seblm engkau mengeluh ttg cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorg yg tdk punya sesuatu apapun utk “dimakan”.

●Seblm engkau mengeluh ttg suami atau isterimu, Ingatlah akan seseorang yg menangis sebab dia “kehilangan” pasangan hidupnya.

●Seblm engkau mengeluh ttg hidupmu, Ingatlah akan seseorang yg begitu cepat tlh “dipanggil kembali mndahului kita”.

●Seblm engkau mengeluh ttg anak2mu, Ingatlah akan seseorg yg begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, ttp belum “mendapatkannya”.

🙏Hidup ini adalah Anugerah, sebab itu bersyukurlah selama engkau masih hidup dgn apapun yg engkau punjai, senantiasa unt berbuat n menyebar Kebaikan serta mengajak kpd Kebenaran !🙏

___Have a nice day !!!___

Lebih Mudah Mana

Standar

Ketika kita berpikir negatif pada seseorang…….
Tanpa sadar, kita telah menghakimi orang itu.
 
Lebih mudah mana?
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan,…….
atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman…..
atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri..?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan…..
atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain……
atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku,  melainkan bagaimana kita berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang bikin kita bahagia,  melainkan  sikap diri sendiri-lah yang menentukan,  bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini,
tidak akan terulang kembali.
Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,
yaitu BELAJAR …..
dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES,
Hidup adalah BELAJAR.
Tanpa ada batas umur

JATUH…., berdiri lagi ..
KALAH…, mencoba lagi ..
GAGAL…, bangkit lagi ..

= kangwid.tumblr.com =

Nasehat Untuk Pencari Rizqi

Standar

Mungkin kau tak tahu dimana rizqimu. Tapi rizqimu tahu dimana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatirkan rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karuniaNya.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya  (mati).

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja untuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya!!

Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan. Ia kejutan untuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugas kita cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yang tersesat.

Maka segala puji hanya bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna”

Kisah Tentang Ban

Standar

Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka. “Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?” tanya si bocah dengan penasaran.

Sang ayah tersenyum. “Sini, nak, kau lihat dan perhatikan. Ada enam hal tentang ban yang bisa kita pelajari untuk hidup kita,” katanya sambil menyuruh sang bocah duduk di dekatnya. “Belajar dari ban?” Mata sang anak membelalak. “Lebih pintar mana ban ini daripada bu guru di sekolah?”

Sang ayah tertawa. “Gurumu tentu pintar, Nak. Tapi perhatikan ban ini dengan segala sifat-sifatnya. Pertama, ban selalu konsisten bentuknya. Bundar. Apakah dia dipasang di sepeda roda tiga, motor balap pamanmu, atau roda pesawat terbang yang kita naiki untuk mengunjungi kakek-nenekmu. Ban tak pernah berubah menjadi segi tiga atau segi empat.”

Si bocah mulai serius. “Benar juga ya, Yah. Terus yang kedua?”
“Kedua, ban selalu mengalami kejadian terberat. Ketika melewati jalan berlubang, dia dulu yang merasakan. Saat melewati aspal panas, dia juga yang merasakan. Ketika ada banjir, ban juga yang harus mengalami langsung. Bahkan ketika ada kotoran hewan atau bangkai hewan di jalan yang tidak dilihat si pengemudi, siapa yang pertama kali merasakannya?” tanya sang ayah.
“Aku tahu, pasti ban ya, Yah?” jawab sang bocah antusias.

“Benar sekali. Yang ketiga, ban selalu menanggung beban terberat. Baik ketika mobil sedang diam, apalagi sedang berjalan. Baik ketika mobil sedang kosong, apalagi saat penuh penumpang dan barang. Coba kau ingat,” ujar sang ayah. Si bocah mengangguk.

“Yang keempat, ban tak pernah sombong dan berat hati menolak permintaan pihak lain. Ban selalu senang bekerja sama. Ketika pedal rem memerintahkannya berhenti, dia berhenti. Ketika pedal gas menyuruhnya lebih cepat, dia pun taat dan melesat. Bayangkan kalau ban tak suka kerjasama dan bekerja sebaliknya? Saat direm malah ngebut, dan saat digas malah berhenti?”
“Wow, benar juga Yah,” puji sang bocah sambil menggeser duduknya lebih dekat kepada sang ayah.

“Nah, sifat kelima ban adalah, meski banyak hal penting yang dilakukannya, dia tetap rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. Dia biarkan orang-orang memuji bagian mobil lainnya, bukan dirinya.”
“Maksud ayah apa?” tanya si bocah bingung.
“Kamu ingat waktu kita ke pameran mobil bulan lalu?” tanya sang ayah disambut anggukan sang bocah. “Ingat dong, Yah, kita masuk ke beberapa mobil kan?”
“Persis,” jawab sang ayah. “Biasanya di show room atau pameran mobil, pengunjung lebih mengagumi bentuk body mobil itu, lalu ketika mereka masuk ke dalam, yang menerima pujian berikutnya adalah interior mobil itu. Sofanya empuk, AC-nya dingin, dashboardnya keren, dll. Jarang sekali ada orang yang memperhatikan ban apalagi sampai memuji ban. Padahal semua kemewahan mobil, keindahan mobil, kehebatan mobil, tak akan berarti apa-apa kalau bannya kempes atau bocor.”
“Wah, iya ya, Yah, aku sendiri selalu lebih suka memperhatikan kursi mobil untuk tempat mainanku.”

Sang ayah selesai mengganti bannya, dan berdiri menatap hasil kerjanya dengan puas. “Yang keenam tentang ban adalah, betapa pun bagus dan hebatnya mobil yang kau miliki, atau sepeda yang kau punya, atau pesawat yang kita naiki, saat ban tak berfungsi, kita tak akan bisa kemana-mana. Kita tak akan pernah sampai ke tujuan.”
Sang anak mengangguk-angguk.

Sang ayah menuntaskan penjelasannya, “Jadi saat kau besar kelak, meski kau menghadapi banyak masalah dibanding kawan-kawanmu, menghadapi lumpur, aspal panas, banjir, atau tak mendapat pujian sebanyak kawan-kawanmu, bahkan terus menanggung beban berat di atas pundakmu, tetaplah kamu konsisten dengan kebaikan yang kau berikan, tetaplah mau bekerja sama dengan orang lain, jangan sombong dan merasa hebat sendiri, dan yang terpenting, tetaplah menjadi penggerak di manapun kau berada. Itulah yang ayah maksud dengan hal-hal yang bisa kita pelajari dari ban untuk
hidup kita.”